Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 27 Februari 2014

BANGKIT DARI KAMAR MAYAT

B.J. HABIBIE


“Kemajuan keras dan perkenan Tuhan yang dapat membuat kita melewati masa-masa kritis dalam hidup”

Barangkali, bangsa kita tidak akan pernah dapat membuat pesawat terbang jika B.J. Habibie tidak bangkit dari kamar mayat. Ketika itu, dalam bulan Juli 1959, manusia jenius bertubuh mungil ini sudah terbaring tak berdaya di dalam kamar mayat sebuah rumah sakit di Bonn, Jerman. “Waktu itu hampir tidak ada harapan lagi bagi Pak Habibie untuk hidup,” cerita A. Makmur Makka, salah satu orang dekatnya.
Ketika itu Habibie dalam keadaan koma akibat serangan sejenis virus influenza ke jantungnya. Dokter sudah memprediksi  ia akan meninggal dan merekomendasikan agar “jasad” Habibie dimasukkan ke dalam kamar mayat. Seorang rohaniawan pun didatangkan  untuk membacakan doa-doa, sebagaimana membacakan doa orang sakit yang sebentar lagi akan menghembuskan napas terakhirnya.
Selama 24 jam, remaja cerdas yng sedang kuliah di Technische Hochscule (TH) Aachen, Jerman, itu koma. Badannya sangat lemah dan kakinya terbalut gips. Tiga kali ia mengalami koma  dalam waktu cukup lama dan tiga kali pula dokter menduganya akan meninggal, sehingga tiga kali pula tubuh Habibie dipindahkan ke kamar jenazah dari bangsal biasa. “Ketika sadar, yang pertama kali saya lihat adalah rohaniawan yang sedang mendoakan saya,” kenang Habibie.
Selain menimba ilmu tentag desain dan konstruksi pesawat terbang, selama di Jerman Habibie juga aktiif di organisasi pelajar dan mahasiswa. Ketika sakit parah, ia sedang dipercaya menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Aachen, Jerman. Bahkan, ketika itu PPI sedang menyelenggarakan seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di  Eropa, dan penggagas serta ketua panitianya adalah Habibie sendiri. Tak pelak, kawan-kawannya terutama yang menjadi angggota panitia, begitu shock mendengar Habibie jatuh sakit.
Dalam mempersiapkan seminar itu, Habibie memang benar-benar bekerja keras, pantang menyerah meskipun menghadapi kesulitan dana, dan selalu memegang komitmen-karakter Habibie yang menonjol dalam menjalani hidupnya. Demi suksesnya seminar, ia bahkan harus meminjamkan uang ke perusahaan Dailer Benz dengan meminjamkan  dirinya sebagai personal guarantee, dan berhasil. “Ini konsep saya. Kalau Saudara mau membantu, bantulah kami, karena kami adalah masa depan bangsa Indonesia. Kalau Saudara simpati, this is my account, my concept,” kata habibie ketika itu, kepada pimpinan perusahaan Daimler Benz.
Karena sangat sibuk mempersiapkan seminar, Habibie sering lupa makan dan kurang istirahat, sehingga jatuh sakit. Sebelum masuk kamar mayat, ia ditempatkan di kamar yang dihuni oleh seorang anak yang menderita leukemia akut. “Karena badan saya kecil dan wajah saya kekanak-kanakan, saya ditempatkan di kamar anak-anak,” gurau Habibie saat ditengok Kodiat Samadikun.
Sementara habibie terbaring tak berdaya di Rumah Sakit, seminar tetap berjalan dengan sukses, bahkan dianggap sebagai ide baru yang penting dan cemerlang dari kalangan mahasiswa. Seminar yang mempertemukan mahasiswa Indonesia se-Eropa itu juga dinilai mencerminkan upaya positif yang menyatukan pemikiran para mahasiswa  yang ketika itu terkotak-kotak dalam aspirasi politik yang berbeda-beda.
Karena kondisi habibie makin kritis, dokter lantas mengirim telegram agar ada kawannya yang datang ke rumah sakit. Ketika delegasi mahasiswa Aachen datang, keadaan Habibie masih koma di kamar mayat. Baru keesokan  harinya ada kabar baik, bahwa pemuda jenius itu telah melewati masa kritis. Seperti mendapatkan keajaiban, habibie sadar dan semangat hidupnya kembali tinggi. “Kemauan keras saya dan perkenan Tuhan menyebabkan masa kritis itu dapat saya lalui dengan baik, ” kata habibie
Karena telah sadar dan melewati masa kritis, Habibie dipindahkan lagi ke bangsal biasa. Semangat hidup dan tekadnya untuk meraih cita-cita, guna ikut membangun bangsa. Maka, seperti dikutip A. Makmur Makka dalam buku BJ Habibie, Kisah idup dan kariernya (Cides, Jakarta, 1999), Habibie menulis sebuah sajak patriotic untuk mengabdikan derita sekaligus tkad sucinya itu.

SUMPAHKU
Terlentang !
Jatuh! Perih! Kesal !
Ibu Pertiwi
Engkau Pegangan
Dalam Perjalanan
Janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpah Darahku
Makmur Dan Suci
Hancur Badan
 Tetapa Berjalan
Jiwa Besar dan Suci
 Membawa Aku
 Padamu !

Bukan hanya masa kritis di rumah sakit Bonn, saat-saat sulit harus dilewati Habibie untuk meraih cita-cita dan tekadnya guna mengisi kemerdekaan dengan ikut aktif membangun bangsa. Ia juga harus berani hidup pas-pasan selama belajar di Jerman. Sebab, ia berangkat studi ke Jerman dalam kondisi keuangan keluarga sangat terbatas. “Waktu itu, untuk menguliahkan Habibie ke Jerman, saya harus melepas seluruh tabungan dan perhiasan saya. Pokoknya, saya benar-benar habis-habisan untuk Habibie. Sebagai janda yang tidak memiliki koneksi, saya harus berjuang sendiri demi anak,” kata sang Ibu, Ny.R.A. Tuti Martini, seperti diceritakan A. Makmur Makka.
 Sang Ibu memang sudah bersumpah kepada almarhum suaminya-Alwi Abdul Jalil-untuk meneruskan pendidikan anak-anaknya dengan sekuat tenaga. Habibie mendengar sendiri ketika ayahnya meninggal, ibunya yang saat itu sedang hamil delapan bulan bersumpah di depan jasad sang Ayah untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya. Sumpah ang Ibu yang didengarnya sendiri itulah yang ikut menguatkan tekad Habibie untuk menjalani masa kuliah dengan sungguh-sungguh, agar selesai tepat waktu, dengan nilai sempurna. Habibie menargetkan harus lulus tiap ujian. Sebab, jika tidak lulus, masa studinya akan makin lama dan beban ibunya akan makin berat. Sebagai balasan atas jerih payah  sang Ibu, Habibie merasa berkewajiban untuk lulus  tepat waktu, dan dapat segera  kembali ke Indonesia atau bekerja di Jerman.
Berbeda dengan mahasiswa lain yang rata-rata  (99 persen) mendapat beasiswa dengan ikatan dinas penuh, habibie merupakan satu-satunya mahasiswa Indonesia yang hidup dengan tunjangan uang kiriman orang tuanya. Habibie juga hanya memegang paspor hijau(swasta), sedangkan mahasiswa lain memiliki paspor dinas RI. Selain itu, merekapun masih memanfaatkan waktu libur untuk bekerja dan mencari uang. Bahkan, mereka sering menunda-nunda ujian demi pekerjaan dan uang. Lebhi dari itu, mereka masih mendapatkan uang kuliah, uang buku, dan uang pakaian dari pemerintah sehingga dapat hidup cukup mewah dengan mobil-oibil yang bagus. Sedangkan Habibie lebih berkonsentrasi pada kuliah, selalu mengikuti ujian tepat waktu, bahkan sering memanfaatkan liburan untuk ujian, agar dapat lulus lebih cepat. Sementara, kiriman uang dari ibunya sangat pas-pasan. Untuk membeli buku aja ia sering harus mencari uang sendiri pada waktu libur, saat tidak ada ujian.
Tekad Habibie untuk belajar dengan sungguh-sunguh serta dengan cepat, makin kuat tiap kali ia ingat pesan Prof. Mr. Mohammad Yamin, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), yang disampaikan ketika Habibie berpamitan untuk berangkat ke Jerman. Sambil mengelus-elus kepala Habibie dan menganjurkannya agar belajar ilmu tantang pesawat terbang, Prof. Mr. Mohammad Yamin berkata, “ Kamu inilah harapan bangsa.”

Sumber : Buku "Inspiring Stories"


0 komentar:

Posting Komentar

 

Pengikut

Blogger news

Blogroll