B.J. HABIBIE
“Kemajuan keras dan perkenan Tuhan yang dapat membuat kita
melewati masa-masa kritis dalam hidup”
Barangkali, bangsa kita tidak akan pernah dapat membuat
pesawat terbang jika B.J. Habibie tidak bangkit dari kamar mayat. Ketika itu,
dalam bulan Juli 1959, manusia jenius bertubuh mungil ini sudah terbaring tak
berdaya di dalam kamar mayat sebuah rumah sakit di Bonn, Jerman. “Waktu itu
hampir tidak ada harapan lagi bagi Pak Habibie untuk hidup,” cerita A. Makmur
Makka, salah satu orang dekatnya.
Ketika itu Habibie dalam keadaan koma akibat serangan
sejenis virus influenza ke jantungnya. Dokter sudah memprediksi ia akan meninggal dan merekomendasikan agar
“jasad” Habibie dimasukkan ke dalam kamar mayat. Seorang rohaniawan pun
didatangkan untuk membacakan doa-doa,
sebagaimana membacakan doa orang sakit yang sebentar lagi akan menghembuskan
napas terakhirnya.
Selama 24 jam, remaja cerdas yng sedang kuliah di Technische
Hochscule (TH) Aachen, Jerman, itu koma. Badannya sangat lemah dan kakinya
terbalut gips. Tiga kali ia mengalami koma
dalam waktu cukup lama dan tiga kali pula dokter menduganya akan
meninggal, sehingga tiga kali pula tubuh Habibie dipindahkan ke kamar jenazah
dari bangsal biasa. “Ketika sadar, yang pertama kali saya lihat adalah rohaniawan yang sedang mendoakan saya,” kenang Habibie.
Selain menimba ilmu tentag desain dan konstruksi pesawat
terbang, selama di Jerman Habibie juga aktiif di organisasi pelajar dan
mahasiswa. Ketika sakit parah, ia sedang dipercaya menjadi ketua Perhimpunan
Pelajar Indonesia (PPI) di Aachen, Jerman. Bahkan, ketika itu PPI sedang
menyelenggarakan seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa, dan penggagas serta ketua panitianya
adalah Habibie sendiri. Tak pelak, kawan-kawannya terutama yang menjadi angggota
panitia, begitu shock mendengar Habibie jatuh sakit.
Dalam mempersiapkan seminar itu, Habibie memang benar-benar
bekerja keras, pantang menyerah meskipun menghadapi kesulitan dana, dan selalu
memegang komitmen-karakter Habibie yang menonjol dalam menjalani hidupnya. Demi
suksesnya seminar, ia bahkan harus meminjamkan uang ke perusahaan Dailer Benz
dengan meminjamkan dirinya sebagai
personal guarantee, dan berhasil. “Ini konsep saya. Kalau Saudara mau membantu,
bantulah kami, karena kami adalah masa depan bangsa Indonesia. Kalau Saudara
simpati, this is my account, my concept,” kata habibie ketika itu, kepada
pimpinan perusahaan Daimler Benz.
Karena sangat sibuk mempersiapkan seminar, Habibie sering
lupa makan dan kurang istirahat, sehingga jatuh sakit. Sebelum masuk kamar
mayat, ia ditempatkan di kamar yang dihuni oleh seorang anak yang menderita
leukemia akut. “Karena badan saya kecil dan wajah saya kekanak-kanakan, saya
ditempatkan di kamar anak-anak,” gurau Habibie saat ditengok Kodiat Samadikun.
Sementara habibie terbaring tak berdaya di Rumah Sakit,
seminar tetap berjalan dengan sukses, bahkan dianggap sebagai ide baru yang
penting dan cemerlang dari kalangan mahasiswa. Seminar yang mempertemukan
mahasiswa Indonesia se-Eropa itu juga dinilai mencerminkan upaya positif yang
menyatukan pemikiran para mahasiswa yang
ketika itu terkotak-kotak dalam aspirasi politik yang berbeda-beda.
Karena kondisi habibie makin kritis, dokter lantas mengirim
telegram agar ada kawannya yang datang ke rumah sakit. Ketika delegasi
mahasiswa Aachen datang, keadaan Habibie masih koma di kamar mayat. Baru
keesokan harinya ada kabar baik, bahwa
pemuda jenius itu telah melewati masa kritis. Seperti mendapatkan keajaiban,
habibie sadar dan semangat hidupnya kembali tinggi. “Kemauan keras saya dan
perkenan Tuhan menyebabkan masa kritis itu dapat saya lalui dengan baik, ” kata
habibie
Karena telah sadar dan melewati masa kritis, Habibie
dipindahkan lagi ke bangsal biasa. Semangat hidup dan tekadnya untuk meraih
cita-cita, guna ikut membangun bangsa. Maka, seperti dikutip A. Makmur Makka
dalam buku BJ Habibie, Kisah idup dan kariernya (Cides, Jakarta, 1999), Habibie
menulis sebuah sajak patriotic untuk mengabdikan derita sekaligus tkad sucinya
itu.
SUMPAHKU
Terlentang !
Jatuh! Perih! Kesal !
Ibu Pertiwi
Engkau Pegangan
Dalam Perjalanan
Janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpah Darahku
Makmur Dan Suci
Hancur Badan
Tetapa Berjalan
Jiwa Besar dan Suci
Membawa Aku
Padamu !
Bukan hanya masa kritis di rumah sakit Bonn, saat-saat sulit
harus dilewati Habibie untuk meraih cita-cita dan tekadnya guna mengisi
kemerdekaan dengan ikut aktif membangun bangsa. Ia juga harus berani hidup
pas-pasan selama belajar di Jerman. Sebab, ia berangkat studi ke Jerman dalam
kondisi keuangan keluarga sangat terbatas. “Waktu itu, untuk menguliahkan
Habibie ke Jerman, saya harus melepas seluruh tabungan dan perhiasan saya.
Pokoknya, saya benar-benar habis-habisan untuk Habibie. Sebagai janda yang
tidak memiliki koneksi, saya harus berjuang sendiri demi anak,” kata sang Ibu,
Ny.R.A. Tuti Martini, seperti diceritakan A. Makmur Makka.
Sang Ibu memang sudah
bersumpah kepada almarhum suaminya-Alwi Abdul Jalil-untuk meneruskan pendidikan
anak-anaknya dengan sekuat tenaga. Habibie mendengar sendiri ketika ayahnya
meninggal, ibunya yang saat itu sedang hamil delapan bulan bersumpah di depan
jasad sang Ayah untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya. Sumpah ang Ibu yang
didengarnya sendiri itulah yang ikut menguatkan tekad Habibie untuk menjalani
masa kuliah dengan sungguh-sungguh, agar selesai tepat waktu, dengan nilai
sempurna. Habibie menargetkan harus lulus tiap ujian. Sebab, jika tidak lulus,
masa studinya akan makin lama dan beban ibunya akan makin berat. Sebagai balasan atas jerih payah sang Ibu,
Habibie merasa berkewajiban untuk lulus
tepat waktu, dan dapat segera
kembali ke Indonesia atau bekerja di Jerman.
Berbeda dengan mahasiswa lain yang rata-rata (99 persen) mendapat beasiswa dengan ikatan
dinas penuh, habibie merupakan satu-satunya mahasiswa Indonesia yang hidup
dengan tunjangan uang kiriman orang tuanya. Habibie juga hanya memegang paspor
hijau(swasta), sedangkan mahasiswa lain memiliki paspor dinas RI. Selain itu, merekapun masih memanfaatkan waktu libur untuk bekerja dan mencari uang.
Bahkan, mereka sering menunda-nunda ujian demi pekerjaan dan uang. Lebhi dari
itu, mereka masih mendapatkan uang kuliah, uang buku, dan uang pakaian dari
pemerintah sehingga dapat hidup cukup mewah dengan mobil-oibil yang bagus.
Sedangkan Habibie lebih berkonsentrasi pada kuliah, selalu mengikuti ujian
tepat waktu, bahkan sering memanfaatkan liburan untuk ujian, agar dapat lulus
lebih cepat. Sementara, kiriman uang dari ibunya sangat pas-pasan. Untuk membeli
buku aja ia sering harus mencari uang sendiri pada waktu libur, saat tidak ada
ujian.
Tekad Habibie untuk belajar dengan sungguh-sunguh
serta dengan cepat, makin kuat tiap kali ia ingat pesan Prof. Mr. Mohammad Yamin,
yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K),
yang disampaikan ketika Habibie berpamitan untuk berangkat ke Jerman. Sambil
mengelus-elus kepala Habibie dan menganjurkannya agar belajar ilmu tantang
pesawat terbang, Prof. Mr. Mohammad Yamin berkata, “ Kamu inilah harapan
bangsa.”
Sumber : Buku "Inspiring Stories"